SUMEDANG, 27 Juni 2025 — Di usia yang sudah hampir menyentuh kepala delapan, Abah Didi (79) masih terus berjuang demi mengisi perut dan mempertahankan hidup. Setiap hari, dengan langkah tertatih dan tubuh yang sudah renta, beliau menjajakan tusuk sate dari rumah ke rumah hingga ke pasar, dengan penghasilan yang tak menentu. Di tengah keterbatasan fisik dan usia lanjut, Abah Didi tak pernah mengeluh, semangatnya tetap menyala.
Melihat perjuangan beliau, Ruang Kita Peduli telah menyalurkan bantuan sembako secara rutin kepada Abah Didi selama enam bulan terakhir. Bantuan ini mencakup kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, telur, gula, mie instan, kebutuhan harian lainnya beserta santunan tunai.

Program bantuan ini dirancang agar Abah Didi bisa sedikit terbantu dalam memenuhi kebutuhan sehari-harinya, tanpa harus sepenuhnya bergantung pada hasil penjualan tusuk sate yang sangat kecil keuntungannya. Penyaluran dilakukan setiap bulan langsung ke rumah Abah Didi di daerah sukasari, Sumedang, dan selalu disambut dengan senyum hangat serta rasa syukur yang tulus.
“Abah nggak punya apa-apa selain semangat dan doa. Bantuan dari kalian ini sangat besar artinya untuk Abah dan istri. Terima kasih, nak, mudah-mudahan Allah balas dengan kebaikan berlipat,” ujar Abah Didi dengan suara pelan dan mata berkaca-kaca.

Bagi kami, program ini bukan sekadar memberi, tetapi juga belajar dari sosok seperti Abah Didi tentang keteguhan hati, kerja keras, dan kesederhanaan yang luar biasa. Selama enam bulan ini, hubungan antara relawan dan Abah Didi telah terjalin hangat, layaknya keluarga sendiri.
Semoga bantuan yang telah diberikan bisa terus berlanjut, dan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk turut ambil bagian dalam membantu lansia-lansia tangguh seperti Abah Didi. Karena sering kali, mereka yang paling diam justru sedang berjuang paling keras.
Salam Hangat
Ruang Kita Peduli




























