
Dengan satu mata diperban dan tubuh yang kian menua, Abah tetap berjuang agar keluarganya bisa makan.
Abah Deni (83) memilih untuk tidak menyerah pada hidup. Meski penglihatannya semakin kabur dan tubuhnya melemah, Abah tetap berjuang demi istri dan mertuanya yang menunggu di rumah.
Dulu Abah berjualan batagor, tahu bulat, hingga mainan anak. Namun karena penglihatannya memburuk bahkan pernah salah memberi uang kembalian Abah terpaksa berhenti berdagang makanan.
Kini, Abah berjualan sapu lidi keliling dijalanan. Satu sapu dijual Rp10.000 dengan keuntungan hanya sekitar Rp4.000. Untuk berjualan, Abah harus meninggalkan kampung halamannya selama 2–3 hari dan tidur di mushola SPBU.
Di rumah, Abah menanggung hidup istri dan mertua yang hampir berusia 100 tahun. Keduanya sering sakit dan tak bisa berjalan. Abah kerap khawatir mereka hanya makan nasi dan garam saat ia pergi berjualan.

Musibah kembali datang saat Abah terjatuh dan melukai matanya. Hingga kini, Abah berjualan dengan satu mata diperban, bahkan tetap berjalan di bawah hujan hanya dengan penutup kepala plastik.
“Kalau saya berhenti jualan, siapa yang kasih makan istri sama mertua?”
Abah hanya ingin membawa keluarganya berobat dan memiliki warung kecil di depan rumah, agar tak perlu lagi berkeliling di usia senja. Mari bantu Abah Deni menafkahi keluarga dengan lebih layak dengan cara:


![]()
Belum ada Fundraiser