
Setiap hari, Abah berusaha menjual daun singkong dengan harga hanya Rp2.000 per ikat.
Penghasilan yang didapat memang tidak banyak, tetapi cukup membantu Abah membeli kebutuhan makan sehari-hari. Namun, kondisi kaki Abah sering terasa sakit saat berjalan, sementara penglihatannya juga sudah terganggu dan kerap terasa kunang-kunang.
“Daun singkongnya mati semua, Abah jadi susah untuk jualan”

Sudah sekitar dua bulan, daun singkong yang menjadi sumber penghasilan Abah mengering dan mati sehingga Abah kehilangan pemasukan dari kebunnya. Tanpa penghasilan, Abah semakin kesulitan memenuhi kebutuhan makan dan biaya berobat yang selama ini belum mampu ia lakukan.
Bahkan, Abah pernah hanya bisa menatap etalase warung makan karena tidak memiliki uang untuk membeli makanan. Saat ada yang memberi makanan, Abah bisa makan, tetapi ketika tidak ada bantuan, Abah terpaksa menahan lapar seorang diri 
Meski hidupnya serba terbatas, Abah masih menyimpan satu harapan sederhana yaitu bisa berobat agar kaki dan penglihatannya membaik, lalu kembali memiliki penghasilan sendiri.
Abah ingin bisa kembali bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus selalu bergantung pada pemberian orang lain.
Di usia 74 tahun, Abah Cahyana seharusnya bisa menjalani hari dengan lebih tenang. Namun kehilangan penghasilan dan kondisi tubuh yang semakin melemah membuat kesulitan untuk berjuang. Yuk, bersama Ruang Kita Peduli, bantu Abah memenuhi kebutuhan pangan, mendapatkan pengobatan, dan kembali memiliki penghasilan untuk hidup lebih layak.


![]()
Belum ada Fundraiser