
Di usianya yang sudah 72 tahun, Abah Bakri masih harus berjalan keliling menjajakan opak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Penghasilannya hanya sekitar Rp15 ribu sampai Rp50 ribu sehari, sementara angkutan angkot dan ojek bisa mencapai Rp30 ribu pulang-pergi. Kalau dagangan sedang sepi, uang yang dibawa pulang bahkan tidak cukup untuk mengganti ongkos perjalanan.

Yang membuat perjuangan Abah semakin berat, penglihatannya sudah terganggu katarak di kedua mata. Untuk berjalan, Abah hanya mengandalkan tongkat sederhana yang dibuat dari gagang sapu.
Rematik dan sakit lambung juga sering membuat langkahnya terhenti karena tubuh sudah tidak yakin dulu

Namun, cobaan Abah tidak berhenti sampai di situ karena beberapa kali ia menjadi korban penipuan saat berjualan. Uang Rp700 ribu yang sudah susah payah dikumpulkan untuk biaya berobat Abah dan istrinya pernah membawa kabur seseorang. Abah juga pernah menerima uang palsu Rp100 ribu hingga harus memberikan kembalian Rp90 ribu kepada pembeli.
“Uangnya itu buat berobat, uang tujuh ratus ribu, dibawa orang…” kenang Abah sambil tersedu
Bukan hanya uang berobat yang hilang, kejadian itu membuat kebutuhan makan, modal jualan, dan pengobatan Abah serta istrinya semakin sulit terpenuhi. Meski begitu, Abah tetap memilih berjualan karena tidak ingin hanya berdiam diri dan tetap ingin memenuhi kebutuhan keluarganya
Abah sudah melalui berbagai kesulitan untuk bertahan hidup di usia senjanya. Yuk, bersama Ruang Kita Peduli, bantu Abah mendapatkan pengobatan dan hidup yang lebih layak. Semoga setiap sedekah yang kita titipkan menjadi pahala dan jalan kebaikan bagi kita semua.


![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik