

Di usia 70 tahun, Abah Amun tinggal sendiri di rumah tua peninggalan orang tuanya. Sepi sudah jadi teman sehari-hari. Anak satu-satunya hidup pas-pasan dan tak lagi mampu membantu, jadi Abah memilih tetap berjuang sendiri meski tubuhnya tak sekuat dulu.
Setiap pagi, ia membawa kopi sachet dan menjualnya Rp5.000 per gelas. Modalnya hanya Rp50.000, itu pun uang terakhir yang ia punya. Termos dan tas jualannya hasil meminjam. Abah keliling berharap ada satu dua orang yang mau berhenti membeli.

Namun sering kali, seharian tak ada yang datang. Kopi sulit laku, langkahnya makin pelan, dan perutnya kosong. Kalau sudah begitu, Abah hanya minum air putih untuk menahan lapar. Katanya sudah terbiasa, walau kepala sering pusing.
Penglihatannya kini buram. Pernah karena lemas dan lapar, Abah terjatuh di jalan. Ia juga pernah tertabrak mobil saat menyeberang hingga tak sadarkan diri dan harus dijahit di bagian pelipis. Tapi Abah tak pernah menyalahkan siapa pun, bahkan menolak operasi karena merasa kasihan pada orang yang menabraknya.
Abah hanya ingin bisa makan dengan tenang dan menjalani masa tua tanpa rasa cemas. Yuk, temani perjuangan Abah Amun


![]()
Belum ada Fundraiser