Dulu setiap pagi, Abah Adang harus memikul papan tahu dan berjalan dari satu tempat ke tempat lain. Ia berharap dagangannya laku, karena dari situlah Abah bisa membawa pulang uang untuk membeli beras dan makan bersama sang istri.
“Kalau nggak laku harus dikembalikan, Neng. Makanya Abah harus kerja lebih keras supaya nggak rugi dan bisa beli beras buat makan.”
Di usia 81 tahun, ditambah asma yang sering kambuh saat kelelahan, Abah tetap memilih bekerja karena berhenti berarti tak ada penghasilan yang dibawa pulang.
Tapi kali ini, Abah tidak berjalan sendirian.
Pada 17 September 2026, amanah dari orang-orang baik akhirnya sampai ke tangan Abah Adang.

Santunan tunai disalurkan untuk membantu kebutuhan Abah dan istrinya. Saat menerima bantuan, ada rasa haru sekaligus lega yang terpancar dari wajah Abah.
“Terima kasih, Neng, kepada orang-orang baik yang sudah membantu Abah. Semoga kebaikannya dibalas oleh Allah.”
Mungkin bantuan ini tidak serta-merta menghapus semua kesulitan yang selama ini Abah hadapi. Tetapi setidaknya, ada sedikit beban yang bisa diletakkan sejenak.
Ada kebutuhan yang bisa terbantu. Ada beras yang bisa dibeli. Dan ada satu hal yang mungkin jauh lebih berarti: Abah tahu bahwa perjuangannya tidak luput dari perhatian.
Terima kasih, orang-orang baik.
Terima kasih sudah menitipkan kebaikan untuk Abah Adang. Semoga apa yang diberikan hari ini menjadi manfaat untuk Abah dan istrinya, sekaligus menjadi kebaikan yang terus mengalir bagi setiap tangan yang ikut membantu.
Salam Hangat,
Ruang Kita Peduli








