
Banjir bandang menghancurkan rumah sekaligus tempat mengaji milik Ustadz Dadan (64 th). Dinding jebol, lantai tertutup lumpur, atap nyaris runtuh, bahkan mushaf Al-Qur’an dan kitab-kitab yang selama puluhan tahun menemani dakwahnya ikut rusak dan hanyut terbawa arus.

Namun di balik kehancuran itu, semangat Ustadz Dadan tak ikut roboh. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk mengajar ngaji. “Seikhlasnya saja, yang penting mau belajar,” begitu prinsip hidupnya. Selama lebih dari 40 tahun, sore hari di rumah sederhananya selalu dipenuhi anak-anak yang belajar membaca Al-Qur’an, tauhid, dan fiqih hingga bencana besar itu datang tanpa peringatan.
Kini, dari puluhan murid yang dulu memenuhi ruangan, hanya tersisa sekitar 5 anak yang masih rutin datang. Mereka duduk mengaji di ruang yang dindingnya retak, dengan Al-Qur’an yang tersisa. Tapi di hadapan anak-anak itulah, Ustadz Dadan tetap sabar mengeja huruf demi huruf, seakan ingin membuktikan bahwa ilmu Allah tetap harus hidup, meski tempatnya nyaris hilang.

Yang paling mengiris hati Ustadz Dadan bukan hanya rumahnya yang rusak, melainkan Qur'an beserta kitab-kitab warisan dari almarhum orang tuanya yang kini basah, sobek, bahkan hilang terbawa banjir.
Meski kondisi fisik sudah tak lagi muda, beliau tetap memilih bertahan, selama masih ada satu murid yang ingin belajar Al-Qur’an, dakwah tidak boleh berhenti.

Kerabat, yuk ambil peran. Uluran tangan kita bisa menjadi jalan agar cahaya Al-Qur’an tetap menyala di tengah ujian berat ini.

![]()
Belum ada Fundraiser
![]()
Menanti doa-doa orang baik