

Setiap dua hari sekali, Abah menyiapkan cilok dengan cara sederhana. Abah mengaduk adonan, dibantu Mak mencetak bulatan-bulatannya. Cilok itu direbus di tungku kayu bakar karena Abah tak punya kompor gas. Untuk bahan kayu bakarnya, Abah harus masuk dan ambil ke hutan belakang rumah.

Meski tubuhnya lemah, Abah tetap mendorong gerobak tuanya sejak pagi ke sekolah-sekolah. Gerobaknya sudah rusak, sepedanya pun tak lagi bisa dikayuh sebab rem blong, ban bocor, semua serba rapuh. Dari hasil jualan, Abah hanya dapat 30–50 ribu rupiah, itu pun mesti dibagi dengan modal. Namun Abah pantang menyerah sebagai kepala keluarga. “Selama masih kuat, biar saya yang kerja buat istri,” kata Abah tegas.

Di balik semua keterbatasan, Abah punya trauma yang membekas, beberapa kali tertabrak motor, tapi semangat Abah tak pernah padam. Harapannya sederhana, bisa perbaiki gerobak dan sepeda, serta memiliki modal lebih agar dagangannya bisa laku.
Hari ini, kita bisa jadi bagian dari doa Abah Rusdi. Bantu Abah lewat modal usaha supaya ia bisa berjualan lebih layak dan hidup lebih tenang bersama istrinya. Dukungan sekecil apapun akan jadi besar artinya bagi perjuangan Abah. Yuk, patungan untuk Abah Rusdi sekarang.

![]()
Belum ada Fundraiser