

Di usianya yang menginjak 102 th, Abah Idik masih menjalani hari-hari yang panjang dan penuh akan ketidakpastian. Dengan tubuh ringkihnya, Ia memaksakan diri tuk melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota Bandung sembari menawarkan tissue kepada siapa saja yang Abah temui dijalanan.

Sehari-hari perjuangannya mencari nafkah tak selalu menghasilkan. Padahal setiap tissue yang terjual beliau hanya mengambil untung Rp. 1.000 saja. Bagi Abah Idik, bisa kejual 5 pcs tisu saja sudah ia syukuri sebab tak mudah baginya untuk bersaing dengan para penjual tissue lainnya dijalanan.
Dari pendapatannya ini, Abah Idik baru akan makan bila ia sudah mampu menyisihkan uang Rp. 15.000. Bila Rp. 15.000 itu belum di tangannya, Abah lebih sering memilih untuk tahan rasa laparnya dengan minum air putih saja.

Kebiasaan Abah Idik berhemat tentu bukan tanpa alasan, makan cukup sekali dalam sehari ia terapkan karena rasa takutnya bila di keesokan hari justru jualannya merugi.
Salah satunya juga dikarenakan trauma Abah Idik yang pernah ditipu pembeli. Sebelum membeli tisu, orang tak bertanggung jawab tersebut mengaku akan memborong jualan abah hanya saja ia sedang dalam kondisi sakit dan meminta bantuan uang sebanyak 200 ribu untuk berobat terlebih dahulu, baru setelahnya ia akan memborong dagangan Abah tersebut.
Merasa iba, Abah Idik pun memberikan uang sebanyak 200 ribu yang telah ia kumpulkan dari jualan selama berminggu-minggu. Uang yang telah susah payah Abah kumpulkan lenyap begitu saja padahal uang tersebut telah diniatkan untuk membayar sewa kontrakannya yang jangka waktu pembayarannya tinggal satu minggu lagi. Mengingat kejadian tersebut, Abah Idik justru berkata, “Semoga yang menipu ada rezekinya biar gak merugikan ke orang lain lagi.”

Namun tak bisa dihindari, ketika Abah sendirian di kontrakannya, ia sering menangis dan mengingat sang istri yang telah meninggal dunia 20 tahun lalu.
Di kontrakan yang dindingnya mulai retak, atapnya berlubang dan berjamur kehitaman serta pintunya yang terlihat berkarat, Abah kesepian tak punya teman bicara untuk mengungkapkan kepahitan hidup yang dirasakannya. Kontrakan itu menjadi satu-satunya saksi bisu perjuangan Abah Idik bertahan hidup selama ini.

Kerabat Peduli, cerita tersebut tak hanya dialami oleh Abah Idik saja. Masih banyak lansia pejuang nafkah lain yang dihadapkan dengan kondisi serupa.
Oleh karena itu, Ruang Kita Peduli mengajak kerabat semua untuk andil dalam gerakan #KitaPeduliLansia. Program yang diinisiasi dalam membantu para lansia pejuang nafkah bahagia dihari tua. Program ini tidak hanya menyediakan bantuan pokok harian, tetapi juga modal usaha agar mereka bisa bangkit dan memperbaiki kehidupan keluarganya. Teman-teman bisa bantu mereka dengan cara:


Terima Kasih,
Ruang Kita Peduli
___
Ikuti update aktivitas program ini melalui:
Instagram & Facebook: @ruangkitapeduli
website: ruangkitapeduli.org
![]()
Belum ada Fundraiser