
Di saat orang-orang menikmati musik lewat layanan streaming, Abah Dedy (74) masih menggantungkan hidupnya dari kaset pita lawas. Ia menjual ratusan kaset-kaset tersebut di gerobak dengan disusun rapi.

Ia berjualan setiap hari, dari pagi sampai sore, berharap ada satu-dua pembeli lewat. Satu kaset ia jual Rp10.000, dalam seminggu kadang hanya laku satu atau dua. “Kalau gak jualan, gak bisa makan,” ujarnya lirih.
Di era serba digital ini, peminat kaset jadul hampir punah. Tapi bagi Abah, gerobak kaset itu bukan sekadar kenangan, melainkan satu-satunya sumber kehidupan yang tersisa untuk memenuhi kebutuhan hariannya.

Hasil jualan kaset seringnya tidak cukup hingga ia sering kali menahan lapar. Dokter menyarankan ia makan tiga kali sehari agar asam lambungnya gak kambuh, tapi bagaimana bisa, kalau penghasilannya saja kadang gak cukup buat sekali makan?
Ia menderita asam lambung, vertigo, dan pendengaran yang mulai melemah. Pernah suatu kali ia pingsan di tempat jualan karena vertigo yang diidapnya kambuh.

Kini, di usia senja, Abah masih berusaha kuat meski tubuhnya sering bergetar setiap kali berdiri lama. Tapi Abah tidak menyerah. Setiap pagi, ia tetap mendorong gerobaknya menuju tempat biasa ia jualan di dekat stasiun, berharap hari itu akan ada satu orang yang membeli satu kaset, agar bisa sekadar makan dan membeli obat.
Kerabat, yuk bantu Abah Dedy agar tetap bisa makan dengan layak dan memperoleh layangan pengobatan. Bantuanmu bisa jadi harapan besar bagi abah yang masih berjuang dengan cara sederhana, berjualan kenangan di tengah era yang telah berubah.

![]()
Belum ada Fundraiser